Minggu, 13 Desember 2015

KARENA AKU PEREMPUAN

Rp 35.000
Penulis: Serpihan Abad
ISBN: 978-602-14249-1-9
TESTIMONI:
Membaca buku puisi ini, serasa ikut berkelana menyusuri kehidupan nyata. Mencari makna cinta yang sebenarnya dalam ragam liku peliknya cinta. Judul “Karena Aku Perempuan”, benar-benar mewakili rasa yang tersembunyi dan kadang hanya terpendam di sudut hati seorang perempuan. Selamat atas terbitnya buku puisi ini.
ASIH RANGKAT Wakil Kepala Desa Rangkat, Sebuah Komunitas Menulis di Kompasiana
Membaca karya S.A. seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa benar pada hakekatnya wanita adalah makhluk yang lemah, cuma jeda, hanya sebuah koma sebelum titik. Namun di sisi lain ada suara-suara yang meneriakkan bahwa wanita juga sesosok pribadi yang kuat. Tangguh. Bermartabat. Bukan semata objek atau hiasan di atas kepala. Wanita punya suara yang juga harus didengar oleh sekelilingnya. 
Dalam hal ini S.A. berhasil menyuarakan jerit hati wanita lewat bait puisinya yang apik. Kekuatan puisi S.A. justru terletak pada pemilihan katanya yang sederhana namun mengena. Satire yang kaya rasa. Sehingga pada akhirnya setiap kita dapat memahami bahwa esensi seorang wanita bukan hanya “seonggok daging bergelambir yang tersaji nikmat di atas ranjang’” belaka, melainkan mewakili sesosok raga berjiwa yang juga memiliki hak untuk bersuara. Sebab tanpa wanita, seorang pria bukanlah siapa-siapa.
LEILLA CLAUDYA Blogger, Educator, And Librarian
Kumpulan puisi ini, membawa kita pada kedalaman makna, mengajak rasa menyelami pada romansa dan keseharian yang penuh kejutan. 
KEN HANGGARA Penulis Buku “Dermaga Batu” dan “Jalan Setapak Aisyah”
Ya, cinta adalah kematian sekaligus kehidupan.
Kematiannya seperti para pemabuk yang tidak sadarkan diri, berjalan dalam sunyi malam, mengigau di lorong-lorong kota, menjeritkan ketidaktahuan dan kegelisahan. 
Sedang hidupnya cinta seperti jiwa yang berpijar, laksana suluh yang membangunkan tidur yang beku karena waktu senantiasa melelapkan lembah-lembah, dialah pijar yang membidik titik kebangkitan bagi kehidupan yang telah diselubungi aroma kematian di kalbunya. 
“Bagaimanakah cinta bisa menghidupkanmu? Bila engkau terperangkap dalam kematian naluri karena terpedaya nafsu, bukankah engkau seperti budak-budak cinta yang sedang mabuk di jalan yang tidak menyadari ujungnya?“ 
Dan jika ia mengatakan, “cintamu hanya mimpi semu.” Maka jawablah, “semu hanya dunia, dan raga yang fana. Kita tidak mencintainya. Yang kita kasihi adalah jiwa yang kita miliki. Karena itulah yang abadi. Maka kita memburu cinta di antara jiwa-jiwa yang rindu.“
Seharusnya ada kepahaman yang terbentang jika cinta telah menyentuh jiwa. Agar kesunyian seperti dalam jiwaku ini hanyalah pergulatanku mencari kebenaranmu. Dan agar bumi tidak menjadi tempat budak-budak cinta yang mabuk dan tidak mengerti, bahwa cinta adalah semua kehidupan dan harapan. Bukannya keindahan yang harus dimiliki. Agar cinta tidak menjadi lembah dosa dan putus asa, dan menjadi tempat untuk menangisi yang fana.
Aku mengenali kecintaan dalam jiwaku dengan jiwamu. Ketika engkau berkata, “ruhku dimiliki cinta, karena cinta adalah kehidupan segalanya.”
VENUS Aktif Menulis Puisi di Kompasiana
Adalah sesuatu yang sangat berharga ketika saya bisa mengenal sosok S.A., semua pemikiran dan pandangan hidupnya membuat saya kagum. Cerita yang keluar dari mulutnya bagaikan air mengalir, saya dengar dengan kekaguman yang sulit dijelaskan.
Semua puisi dan tulisannya, mengandung arti. Ada kepedihan dan pengharapan yang dalam. Sebuah perjalanan hidup yang penuh warna, lika-likunya membuat saya tercengang. Hal itulah yang menyemangati saya “memaksa” S.A. untuk dijadikan sebuah buku Kumpulan Puisi. Agar tidak hanya bisa dinikmati oleh penulisnya saja tapi dapat juga dinikmati oleh para pembaca. 1 buku yang akan mengantarkan S.A. pada cita-cita masa kecilnya sebagai penulis, Saya bangga bisa menjembatani itu.
BUNDA RAFIMy Management, Creative Writing
Membaca karya-karya Serpihan Abad, seperti “Rindu Yang Rapuh” atau “Engkaukah Sungaiku?”, membuatku terkucil dalam satu dimensi realitas cinta yang tak terbatas oleh sekat keindahan, tapi juga nestapa, lara, dan koyak luka. Namun, Serpihan Abad tak hanya pandai meneriakkan cinta biru. Beberapa karyanya juga berbau pop. Baca saja “Di Secangkir Teh Tarikmu”.
Cinta, digambarkan secara kompleks dalam setiap karyanya. Terlihat sekali Serpihan Abad telah mengalami proses pendewasaan dalam olah rasa dan menuangkan secara bijak dalam baris demi baris kata sehingga mengajak pembacanya untuk memahami tanpa mengalami kebuntuan dalam penafsiran. Ini yang sekiranya penting dalam menciptakan syair.
Sederhana dan menarik! Baca: “Air Api”, “Album”, “Sinetron”. Tapi sungguh, setiap pecinta karya seni, tahu bahwa di balik kesederhanaan yang terhidang, terdapat sebuah proses rumit yang membutuhkan masa-masa pendadaran yang panjang.
Anda tak akan pernah kecewa dalam melahap rangkaian alfabet yang disusun secara cermat oleh Serpihan Abad. Tak hanya indah dan abstrak, namun juga tak terlupakan.
LEIL FATAYAPenggiat Fiksi Pendek dan Puisi

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar