Minggu, 03 Januari 2016

Hujan Terakhir

Rp 52.500

Penulis: SMA Yayasan Pupuk Kaltim
ISBN: 978-602-6757-05-0
Sinopsis:
…Tuhan. Ya, akulah tuhan atas cerita ini. Akulah tuhan yang menorehkan pensil diatas kertas ini. Bukan pensil, lebih tepatnya tinta. Tinta inilah yang nantinya akan mengisi lembar lembar kosong di buku ini. Entah berapa liter tinta dan berapa banyak nyawa pohon yang melayang hanya demi ketuhananku. Tapi, aku tidak peduli. Aku menyukai keberadaanku sebagai Tuhan, hidupku bebas, tak terikat oleh aturan-aturan yang memuakkan. Bahkan, akulah yang membuat aturan tersebut. Aturanku, tidak bisa diganggu gugat. Dengan menjadi Tuhan, aku pun tak perlu memikirkan apa yang terjadi pada realita. Aku tidak peduli lagi. Aku sudah muak. Di realita, keadaan adalah Tuhanku. .. (Tuhan?, 48)
…. Sekarang aku baru teringat aku memiliki seorang kakek yang merupakan pejuang pada zaman Stalin. Namanya Mikhail, dia seorang marksman, sama seperti Zaitsev. Dan aku juga pernah mendengar dari orangtuaku bahwa kakekku itu adalah teman dari Vasily dan mereka penah menjalankan sebuah misi bersama. Kemudian aku mengantar pulang Alexei dan kemudian mengantar diriku sendiri juga untuk pulang. Tanpa kusadari, seseorang telah mengintai kami dari sejak tadi. Seseorang, entah siapa... (Hitam, 177)
.... Air dari mataku pun mengalir bersatu dengan hujan yang membasahiku. Seiring hujan yang terus menyelimuti tubuhku, kenangan-kenangan itu muncul dalam fikiranku seperti film lama yang diputar kembali. Kenangan yang mengingatkanku akan segalanya. Segala hal yang kurindukan.… (Hujan Terakhir, 180)
Luapan kognisi sekaligus emosi siswa SMA YPK tertuangkan dalam narasi. Narasi yang tidak saja menjadi ekspektasi nilai, tetapi mulai dari kisah muda-mudi hingga agen rahasia dituliskan sebagai ungkapan hati..
Hujan Terakhir—antologi cerpen SMA YPK—layak dibaca, bukan hanya untuk dinikmati tetapi juga dikritisi.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar