Minggu, 03 Januari 2016

Senandung Aksara Jiwa

Rp 35.000

Penulis: Nandar Dinata 
ISBN: 978-602-1203-77-4
Testimoni:
Kekhasan puisi-puisi Nandar Dinata adalah penggunaan kata-kata atau ungkapan yang bercitarasa mirip dengan para penyair angkatan 30-an. Pilihan kata-katanya mendayu-dayu, menyeruak sisi dalam perasaan pembacanya. Sebab itu, saya cenderung menganggap Nandar memilih untuk berdiri sebagai penganut romantisme sentimental. Ibarat lagu, puisi Nandar adalah lagu nostalgia, yang membawa pembacanya pada kenangan manis sehingga sulit melupakan puisinya maupun penulisnya. 
—Kang Insan, 
Penulis dan Reviewer Sastra

Jangan berhenti membaca kumpulan puisi di dalam buku ini jika Anda tidak ingin merasakan orgasme membaca persenggamaan kata-kata di dalamnya. Puisi-puisi yang ada dalam buku kumpulan puisi ini sungguh cukup mendalam, sepertinya si penulis memang mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya menjadi bait-bait yang indah.
—Langit Queen, 
CEO & Founder Fiksiana Community

Puisi adalah suara dewa personal yang tergenang dalam jiwa. Mengenali dan mencurah ke permukaan lalu menjelma dalam format bidak diksi. Nandar Dinata mengangkat suara-suara dalam jiwa dirinya. Melantunkan dengan makna yang dia usung dalam liris-liris puisi bersenandung. Syair-syairnya berkarakter. Penyair muda yang bersemangat dalam mencipta. Salut untuk dirinya. 
—Rahab Ganendra, 
Penyair Bulan

Puisi adalah bahasa yang paling personal tentang perjalanan jiwa seseorang. Puisi seharusnya semakin menguatkan jiwa, setidaknya jiwa penulisnya. Saya pikir, buku ini mengarah ke sana. 
—Arimbi Bimoseno, 
Novelis

Membaca puisi-puisi yang ada dalam buku Mas Nandar dari awal hingga akhir, seperti melewati sebuah perjalanan kehidupan seorang pencinta sejati. Pencinta yang terus setia pada rasa cinta yang belum menemukan muara. Terbelenggu dalam rindu yang sama. Pasrah dalam berbagai perasaan yang berujung pada ketidakberdayaan sebagai seorang manusia. Meski diliputi kesedihan, namun dikemas dalam kalimat-kalimat yang indah. 
Rasa penasaran juga tertuju pada penulisnya, apakah ini kisah nyata sang penulis? Jika demikian, alangkah beruntungnya seseorang yang dirindukan itu. Karena rindu padanya, bisa menghasilkan karya yang demikian bagus dan menyentuh. Semoga rindu itu berujung bahagia. Aamiin.
—Asih Rangkat, 
Cerpenis
Keseluruhan karya Nandar Dinata sepertinya memang benar-benar berasal dari kedalaman rasa. Diksi-diksinya terangkai begitu apik, menyentuh, dan menimbulkan suasana teduh yang luar biasa. Pendeknya, bila harus menyimpulkan keseluruhan karya Nandar Dinata dalam satu kata, kata yang langsung saya pilih adalah: MEMIKAT. 
—Lizz, 
Cerpenis dan Novelis

Menikmati goresan pena Mas Nandar Dinata adalah seperti duduk di beranda menunggu senja yang kan lewat dalam pesona jingganya, ditemani secangkir kopi dan ubi rebus, syahdu.
Sudah sejak lama, kerap aku nikmati puisi-puisi Mas Nandar ini, satu kata untuk puisinya yaitu takjub. Bagaimana tidak, meski yang aku rasakan puisi-puisinya kebanyakan karena rindu, namun diuraikan dalam bahasa indah yang berbeda di setiap judulnya…
Larik demi larik terasa tidak membosankan untuk dinikmati, dan semuanya bermuara pada rindu yang menggelegak jiwanya, bahasa kalbunya tertuang menjadi bait-bait yang yang elok dan tidak membosankan meski dibaca berkali-kali.
Seperti pada puisi “Rindu yang Tertatih”
*
Kurasakan hati ini
Merintih dan tertatih
Mengecap peluh pilu
Meringkih dalam jerat sedih 
*
Pembaca seperti disuguhkan cermin hati manakala rindu itu demikian menyiksa batin penulis dan pembaca. Pemilihan judul yang indah juga kerap dipilih Mas Nandar untuk mempercantik bait-bait puisinya, seperti “Ah Rindu, Teganya Kau Padaku”, “Terbuai Pasungan Rindu”, atau “Risalah Rindu Pagi Ini”, yang kesemuanya memang tentang rindu, namun tetap saja menarik tuk disimak.
Buku Antologi Puisi Senandung Aksara Jiwa ini, layak menjadi teman sepanjang masa, karena puisi-puisi yang ada, mewakili jiwa yang menyimpan rindu yang sarat. Bukankah rindu adalah pemanis kehidupan? Entah pada pasangan, anak, kampung halaman atau bahkan rindu pada masa kanak dulu.
Akhirnya… Selamat buat Mas Nandar atas buku Antologi Puisi Senandung Aksara Jiwa ini, semoga akan menyusul buku-buku lain untuk menghadirkan goresan-goresan indah dan abadi di puisi-puisinya. Semangat fiksi. 
—Selsa, 
Penyair

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar